Minggu, 09 Maret 2014

intuisi jika seandainya umpama semisal

menyitir kutipan om henry ward beecher, menuruni sebuah bukit itu lebih mudah memang dibanding menanjak dan menikmati panorama di atas sana. tentu lebih mudah turun, bahkan lebih mudah lagi bila terjun atau bahkan terperosok. tapi MANUSIA mana yang sudi dibawah? tak ada yang rela, pasti lebih memilih diatas sana dan menetap untuk menyantap pemandangan indah menggiurkan sehariharinya. sehingga berbagai cara pun terlihat halal untuk dicoba.
jadi bila dianalogikan sebagai sebuah pertandingan sepakbola, entah sliding tackle yang ciamik ataukah diving yang cantik yang tengah disuguhkan oleh pemain dari kedua tim di kotak 12. sehingga hakim garis dari pinggir lapangan pun ragu kibarkan benderanya dan wasit menjadi bimbang tiup peluitnya. demi keadilan yang nyata, sebaiknya para pemain dapat mengulang slow motion nya. bukanlah drama, inilah kisah nyata. jika saja januari mau duduk bertiga.. duduk manis bersama februari dan desember bicara, seadanya tanpa rekayasa genetika, di angkringan aja sederhana gapapa. mungkin tak akan tercipta segala prahara rasa, muntahan jiwa, gempita nyawa, huruhara aksara. bilang saja, "ya, ku tak cinta lagi. aku memilih hidup dengannya.". jangan ajak jumawa, pasti legawa. karena semua dewasa. ya..ini pasti ketentuanNya..semua harus ambil bagian..menuju ending yang tenang dan bahagia...bersama. #misalnya andai saja jika bila seumpama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut